Kulturpedia
Selamat datang di Kulturpedia. Tempat di mana semangat kebudayaan terus tumbuh dan berkembang. Kami berdedikasi untuk merawat dan memajukan kebudayaan Indonesia. Dengan semangat menyala, kami berupaya menggali, melestarikan, dan menyebarluaskan warisan budaya yang tak ternilai. Bergabunglah bersama kami dalam perjalanan ini dan rayakan!
Literasi
Membuka wawasan, baca tanpa batas, karena ilmu itu asik!
Edukasi
Belajar seru, belajar makin paham dan tidak mudah terpapar hoaks.
Kerja Riset
Cari tahu lebih dalam, bicara pakai data, bukan sekadar asumsi.
Kebudayaan
Rayakan identitas bersama, karena budaya Indonesia ragam maknanya.
Sejarah
Kenali masa lalu biar langkah ke depan makin mantap
Arsip
Simpan jejak, jaga warisan, biar gak hilang ditelan zaman
Agenda #1
Menelusuri Batik Tulis Pekalongan dari Sejarah Batik Oey Soe Tjoen
Ini adalah agenda riset Kulturpedia yang pertama. Kami memulainya di Pekalongan, Jawa Tengah. Tepatnya di industri Batik Oey Soe Tjoen yang sudah masyhur di kalangan kolektor pengagum kain khas Indonesia ini.
Batik Tulis Oey Soe Tjoen
Batik Oey Soe Tjoen kini sudah berusia tiga generasi. Mbak Widya, sebagai generasi penerus kakeknya, selalu berupaya tidak hanya menjaga tradisi, namun juga memajukannya dengan tetap bergelut di industri seni batik tulis peranakan di Pekalongan. Mengenalkan kepada dunia satu bagian dari warisan budaya dunia yang diakui UNESCO.
Kulturblog
Beragam Ensikopedi Kebudayaan Indonesia

Mengenal Sejarah Motif Buketan Oey Soe Tjoen
Motif buketan merupakan salah satu karya Oey Soe Tjoen yang paling melegenda. Sejak usaha batiknya dirintis pada 1925 dan bertahan hingga satu abad kemudian di tangan generasi ketiga, motif ini selalu menjadi produk unggulan. Menariknya, tidak banyak yang mengetahui bahwa buketan sejatinya bukan bagian dari tradisi batik Jawa. Motif ini

Warisan Batik Hokokai: Antara Propaganda Jepang dan Kehalusan Karya Oey Soe Tjoen
Dinamika politik dan budaya sangat mempengaruhi Oey Soe Tjoen dalam berkarya dan merintis usaha batik. Salah satu masa yang paling menentukan adalah periode pendudukan Jepang pada 1942–1945. Pada masa itu, Jepang menggunakan kebudayaan sebagai alat propaganda, yang kemudian melahirkan jenis batik pesisir baru yang berbeda dari sebelumnya. Batik itu kemudian

Kisah Perjuangan Oey Soe Tjoen di Tengah Krisis dan Penjarahan Jaman Bersiap
Seperti halnya roda yang terus berputar, hidup kadang berada di atas, kadang di bawah. Begitu pula dengan perjalanan usaha batik Oey Soe Tjoen. Setelah berhasil merangkak naik hingga mendapat perhatian dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Alidius Tjarda van Starkenborgh Stachouwer tahun 1938, batik Oey Soe Tjoen mulai goyah saat penjajahan

Hokokai dan Jalan Pulang: Kisah Kebangkitan Rumah Batik Oey Soe Tjoen di Bawah Widianti Widjaja
Dalam sejarah panjang Rumah Batik Oey Soe Tjoen (OST), setiap generasi memikul beban zaman sekaligus menenun kisahnya sendiri. Jika era Oey Soe Tjoen ditandai kelahiran estetika batik tulis halus dan masa Oey Kam Long dirundung badai ekonomi dan penjiplakan motif, maka periode Widianti Widjaja adalah babak kebangkitan—sebuah fase ketika tradisi
